Dalam artikel ini
Pendidikan keuangan dimulai di rumah, dan uang saku untuk anak adalah salah satu alat paling efektif untuk mengajarkan anak-anak dan remaja tentang uang, tanggung jawab, dan perencanaan. Memberikan uang saku bukan sekadar menyerahkan uang — ini tentang menciptakan pengalaman edukatif yang berharga. Anak-anak yang belajar mengelola jumlah terbatas sejak dini mengembangkan kemampuan seperti kontrol impuls, perencanaan jangka pendek dan panjang, serta pemahaman tentang prioritas.
Tapi bagaimana melakukannya dengan benar? Berapa yang harus diberikan? Pada usia berapa harus dimulai? Mingguan atau bulanan? Dalam panduan lengkap ini, Anda akan menemukan jumlah yang disarankan berdasarkan kelompok usia, kapan memulai, metode tiga kotak, dan strategi praktis untuk menciptakan kebiasaan menabung dari sejak dini.
Usia Berapa Sebaiknya Mulai Memberi Uang Saku?
Usia ideal untuk mulai memberi uang saku adalah sekitar 5–6 tahun, ketika anak sudah memiliki pemahaman dasar tentang angka, memahami konsep pertukaran (membeli sesuatu dengan uang), dan bisa menunggu beberapa hari untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sebelum itu, uang terlalu abstrak untuk memiliki nilai edukatif.
Tanda-tanda anak Anda siap menerima uang saku:
- Memahami bahwa uang diperlukan untuk membeli sesuatu
- Sudah bisa menghitung dasar
- Sudah meminta untuk membeli mainan atau jajanan tertentu
- Menunjukkan ketertarikan saat Anda membayar di kasir
- Bisa menunggu setidaknya beberapa hari untuk sesuatu yang diinginkan
Berdasarkan kelompok usia:
| Usia | Rekomendasi | Alasan |
|---|---|---|
| 3–4 tahun | Belum perlu uang saku | Uang terlalu abstrak; ajarkan konsep dasar (mahal/murah, menunggu) |
| 5–7 tahun | Uang saku mingguan (jumlah kecil) | Seminggu adalah periode yang dapat dipahami; jumlah kecil untuk belajar tanpa konsekuensi besar |
| 8–10 tahun | Mingguan atau dua mingguan | Memahami periode lebih panjang; bisa mulai menabung untuk tujuan jangka menengah |
| 11–13 tahun | Uang saku bulanan | Periode yang lebih dekat dengan realitas dewasa; belajar mengelola lebih lama |
| 14 tahun ke atas | Bulanan + tanggung jawab | Bisa menanggung pengeluaran tetap (paket internet, transportasi) untuk otonomi lebih besar |
Yang penting adalah menyesuaikan dengan kematangan individual anak, bukan hanya usia. Beberapa anak 7 tahun sudah siap untuk uang saku bulanan, sementara beberapa anak 10 tahun masih lebih baik dengan mingguan.
Berapa Uang Saku yang Tepat: Jumlah yang Disarankan Berdasarkan Usia
Tidak ada jumlah “benar” yang universal — uang saku harus proporsional dengan realitas finansial keluarga dan tanggung jawab yang Anda harapkan anak untuk menanggungnya. Berikut beberapa metode dan referensi.
Metode 1: Rp 5.000 per Tahun Usia (Mingguan)
Metode sederhana dan populer: Rp 5.000 per tahun usia per minggu.
Contoh:
- Anak 6 tahun: Rp 30.000/minggu = Rp 120.000/bulan
- Anak 10 tahun: Rp 50.000/minggu = Rp 200.000/bulan
- Remaja 14 tahun: Rp 70.000/minggu = Rp 280.000/bulan
Keunggulan:
- Mudah dihitung dan dijelaskan
- Bertumbuh secara alami seiring usia
- Memungkinkan penyesuaian seiring anak dewasa
Metode 2: Berdasarkan Pengeluaran yang Harus Ditanggung Anak
Buat daftar apa yang Anda harapkan uang saku tanggung dan jumlahkan.
Contoh untuk anak 9 tahun:
- Jajan sekolah (3x/minggu): Rp 120.000/bulan
- Mainan kecil/buku: Rp 80.000/bulan
- Permen/camilan: Rp 40.000/bulan
- Total yang disarankan: Rp 240.000–280.000/bulan
Contoh untuk remaja 15 tahun:
- Paket internet/pulsa: Rp 100.000/bulan
- Jalan dengan teman (nonton, makan): Rp 200.000/bulan
- Produk perawatan diri: Rp 100.000/bulan
- Transportasi tambahan: Rp 100.000/bulan
- Total yang disarankan: Rp 500.000–600.000/bulan
Tabel Referensi (Jumlah yang Disarankan, Basis 2026)
Jumlah di bawah ini adalah saran kami, dalam rupiah tahun 2026, bukan hasil survei. Patokannya adalah apa yang ditanggung uang saku di setiap usia (kolom terakhir): jumlahkan harga barang-barang itu di kota Anda, lalu sesuaikan.
| Rentang Usia | Mingguan | Bulanan | Yang Harus Ditanggung |
|---|---|---|---|
| 5–7 tahun | Rp 20.000–40.000 | Rp 80.000–160.000 | Jajan kecil, mainan sangat sederhana, belajar menabung |
| 8–10 tahun | Rp 40.000–70.000 | Rp 160.000–280.000 | Jajan sesekali, buku, mainan kecil, menabung untuk sesuatu yang lebih besar |
| 11–13 tahun | Rp 60.000–120.000 | Rp 240.000–480.000 | Jajan, jalan sesekali, baju sederhana, aplikasi/game |
| 14–16 tahun | Rp 100.000–175.000 | Rp 400.000–700.000 | Paket internet, transportasi, jalan dengan teman, kosmetik, baju |
| 17–18 tahun | — | Rp 600.000–1.200.000 | Transportasi, makan di luar, pengeluaran pribadi, persiapan kuliah |
Penting: Jumlah ini adalah titik awal, bukan rata-rata nasional. Keluarga dengan penghasilan lebih rendah bisa mengurangi secara proporsional, keluarga dengan penghasilan lebih tinggi bisa menambah; yang penting adalah uang saku cukup terbatas sehingga anak perlu membuat pilihan dan belajar memprioritaskan. Cara memperbarui: tinjau jumlahnya setahun sekali, saat ulang tahun anak atau di awal tahun ajaran, dengan menghitung ulang harga apa yang ditanggung uang saku, dan juga setiap kali uang saku mulai menanggung pengeluaran baru, seperti paket internet atau transportasi.
Uang Saku Mingguan atau Bulanan: Mana yang Lebih Baik?
Uang Saku Mingguan (5–10 tahun)
Keunggulan:
- Periode lebih pendek lebih mudah dipahami anak kecil
- Mengurangi dampak kesalahan (jika habis di hari pertama, hanya menunggu seminggu)
- Memungkinkan penyesuaian lebih cepat
Kelemahan:
- Orang tua perlu ingat membayar setiap minggu
- Tidak mengajarkan perencanaan jangka panjang
Ideal untuk: Anak 5–10 tahun yang belajar dasar-dasar tentang uang.
Uang Saku Bulanan (11 tahun ke atas)
Keunggulan:
- Lebih dekat dengan realitas dewasa (gaji dibayarkan bulanan)
- Mengajarkan perencanaan jangka lebih panjang
- Lebih sedikit pekerjaan untuk orang tua
- Mempersiapkan manajemen keuangan nyata
Kelemahan:
- Sulit dikelola anak kecil selama 30 hari
- Kesalahan di awal bulan bisa berarti tiga minggu tanpa uang
Ideal untuk: Pra-remaja dan remaja dari 11 tahun.
Uang Saku Dua Mingguan: Jalan Tengah
Untuk transisi antara mingguan dan bulanan (9–11 tahun), pertimbangkan dua mingguan. Lebih mudah dikelola daripada sebulan penuh, namun mengajarkan periode lebih panjang dari seminggu.
Tips praktis: Tetapkan hari tetap untuk membayar uang saku (contoh: setiap Jumat untuk mingguan, setiap tanggal 1 untuk bulanan). Ini menciptakan rutinitas dan prediktabilitas — keterampilan keuangan yang fundamental.
Metode Tiga Kotak: Mengajar Pembagian Uang
Salah satu cara terbaik mengajar pendidikan keuangan dengan uang saku adalah menggunakan metode 3 kotak (atau amplop): Belanja, Tabung, dan Sedekah.
Cara Kerjanya
Setiap kali anak menerima uang saku, mereka harus membagi jumlahnya ke dalam tiga kategori:
1. Belanja (50–70%)
- Uang bebas untuk digunakan sesuai keinginan
- Jajan, mainan, hiburan
- Mengajarkan tentang pilihan dan konsekuensi langsung
2. Tabung (20–40%)
- Disimpan untuk tujuan jangka menengah/panjang
- Mainan lebih mahal, sepeda, gadget
- Mengajarkan perencanaan dan kesabaran
3. Sedekah/Berbagi (10–20%)
- Untuk amal, membantu sesama, hadiah untuk teman
- Mengajarkan empati dan kesadaran sosial
Contoh Praktis
Uang saku Rp 300.000/bulan untuk anak 10 tahun:
- Belanja: Rp 180.000 (60%) — bisa digunakan bebas selama seminggu/bulan
- Tabung: Rp 90.000 (30%) — menabung untuk beli action figure Rp 600.000 (akan terkumpul dalam ~7 bulan)
- Sedekah: Rp 30.000 (10%) — akan membeli makanan untuk donasi ke panti asuhan
Alat yang cocok:
- Anak kecil (5–8 tahun): Gunakan 3 toples kaca transparan (mereka bisa melihat uang bertumbuh)
- Anak lebih besar (9–12 tahun): Gunakan amplop atau buku catatan
- Remaja (13 tahun ke atas): Rekening tabungan, kartu prabayar, atau aplikasi keuangan seperti Monely untuk mulai pengelolaan digital
Fleksibilitas: Persentase tidak kaku. Yang penting anak selalu menyisihkan sesuatu untuk ditabung dan belajar bahwa tidak semua uang untuk belanja segera.
7 Aturan Emas agar Uang Saku Berhasil
1. Uang Saku Bukan Gaji
Uang saku adalah alat pendidikan keuangan, bukan pembayaran untuk tugas dasar di rumah. Membereskan kamar, mencuci piring, mengerjakan PR adalah tanggung jawab normal hidup dalam keluarga.
Yang bisa dibayar secara terpisah (opsional):
- Pekerjaan ekstra di luar kewajiban (mencuci mobil, berkebun)
- Bonus untuk pencapaian akademik atau perilaku yang telah disepakati sebelumnya
Mengapa tidak mengaitkan uang saku dengan tugas dasar:
- Anak bisa menolak melakukan tugas jika “tidak butuh uang”
- Tidak mencerminkan realitas (orang dewasa tidak dibayar untuk mencuci baju sendiri)
- Mencampur tanggung jawab dengan transaksi komersial
2. Konsisten dan Tepat Waktu
Bayar selalu di hari yang sama, dengan frekuensi yang sama. Jika berjanji Jumat, bayar Jumat. Jika tanggal 1, bayar tanggal 1.
Ini mengajarkan:
- Keandalan dan menepati janji
- Perencanaan (anak tahu kapan akan menerima)
- Bahwa komitmen keuangan harus ditepati
3. Jangan Memajukan atau Meminjamkan
Uang saku di muka menghancurkan tujuan edukatif. Jika anak menghabiskan semuanya dan meminta lebih, jawabannya adalah “kamu perlu menunggu sampai [hari pembayaran]”.
Pengecualian: Dalam keadaan darurat nyata (kacamata pecah, lupa uang untuk kegiatan sekolah), Anda bisa meminjamkan secara formal — dengan kesepakatan untuk memotong dari uang saku berikutnya.
4. Biarkan Anak Membuat Kesalahan
Jika anak menghabiskan semua uang saku di hari pertama untuk jajan, jangan berikan lebih. Pelajaran tidak punya uang untuk sisa periode jauh lebih kuat dari ceramah apa pun.
Peran Anda:
- Setelah kesalahan, bicarakan dengan tenang: “Apa yang kamu pelajari? Apa yang akan kamu lakukan berbeda?”
- Jangan memarahi — kesalahan itu sendiri sudah menjadi konsekuensi
- Ajarkan perencanaan untuk uang saku berikutnya
Ingat: Lebih baik belajar dengan Rp 30.000 di usia 8 tahun daripada dengan Rp 3.000.000 di usia 18 tahun.
5. Tentukan Apa yang Ditanggung Uang Saku
Jadilah sangat jelas tentang apa yang termasuk atau tidak termasuk dalam uang saku. Tidak ada masalah mulai dengan sedikit dan meningkatkan tanggung jawab seiring waktu.
Contoh kesepakatan yang jelas:
Anak 7 tahun:
- Uang saku menanggung: permen, mainan kecil, buku kecil
- Orang tua menanggung: perlengkapan sekolah, baju, mainan ulang tahun
Remaja 14 tahun:
- Uang saku menanggung: jajan, jalan dengan teman, paket internet, aplikasi/game
- Orang tua menanggung: makan di rumah, baju yang diperlukan, transportasi ke sekolah
6. Tingkatkan Secara Bertahap
Sesuaikan uang saku 1–2 kali setahun — pada ulang tahun anak dan/atau awal tahun ajaran. Kenaikan bisa disertai tanggung jawab baru.
Contoh perkembangan:
- 8 tahun: Rp 200.000/bulan (hanya jajan)
- 10 tahun: Rp 300.000/bulan (jajan + tabungan wajib)
- 12 tahun: Rp 450.000/bulan (tambah paket internet)
- 14 tahun: Rp 650.000/bulan (tambah transportasi dan jajan di luar)
7. Ajarkan tentang Prioritas dan Pilihan
Gunakan uang saku untuk percakapan rutin tentang pilihan finansial.
Teknik praktis:
- Daftar keinginan: Anak menuliskan semua yang ingin dibeli dan memprioritaskan
- Biaya peluang: “Jika kamu beli mainan ini sekarang (Rp 100.000), butuh X bulan lagi untuk menabung ke tablet yang harganya Rp 2.000.000”
- Grafik kemajuan: Papan visual menunjukkan seberapa jauh tabungan menuju tujuan
Cara Menciptakan Kebiasaan Menabung Sejak Dini
Menabung adalah kebiasaan, bukan bakat bawaan. Anak-anak membutuhkan motivasi yang jelas dan visualisasi konkret untuk memahami mengapa menunggu itu berharga.
1. Tetapkan Tujuan Tabungan yang Konkret
Anak-anak tidak menabung “untuk masa depan” — terlalu abstrak. Mereka menabung untuk sesuatu yang spesifik.
Contoh berdasarkan usia:
- 6–8 tahun: Boneka Rp 200.000, mobil remote control Rp 300.000
- 9–11 tahun: Game konsol Rp 800.000, sepeda Rp 1.500.000, tablet Rp 2.000.000
- 12–14 tahun: Smartphone Rp 3.000.000, headset gaming Rp 800.000
- 15 tahun ke atas: Laptop Rp 8.000.000, liburan dengan teman Rp 2.000.000
Cara membantu:
- Tempelkan foto tujuan pada toples/amplop tabungan
- Buat grafik kemajuan visual (termometer, diagram lingkaran)
- Rayakan pencapaian (sudah 25%! 50%! Hampir sampai!)
2. Tawarkan “Bunga” (Bonus Tabungan)
Untuk mengajarkan konsep imbal hasil, pertimbangkan memberikan bonus atas uang yang ditabung.
Contoh 1: Bunga bulanan
- Untuk setiap Rp 10.000 yang ditabung selama sebulan penuh tanpa disentuh, Anda menambah Rp 1.000
- Anak melihat uang “bertumbuh sendiri”
Contoh 2: Matching tabungan
- Ketika anak menabung 70% dari jumlah tujuan, Anda melengkapi 30% sisanya
- Mengajarkan bahwa menabung dihargai
Penting: Jelaskan bahwa Anda melakukan ini untuk mengajarkan, dan di “dunia nyata” bunga tabungan lebih rendah (tapi ada). Hubungkan dengan konsep investasi di masa depan.
3. Gunakan Toples Kaca Transparan
Untuk anak 5–10 tahun, toples kaca transparan jauh lebih efektif daripada celengan babi tradisional yang tertutup.
Mengapa berhasil:
- Anak melihat uang bertumbuh secara fisik
- Stimulasi visual memperkuat kebiasaan
- Lebih memuaskan daripada angka abstrak
Kapan beralih: Dari usia 11–12 tahun, secara bertahap transisi ke kontrol digital (buku catatan, spreadsheet, atau aplikasi) untuk mempersiapkan dunia nyata.
4. Rayakan Pencapaian
Ketika anak akhirnya membeli barang yang ditabung, rayakan! Ini adalah hadiah emosional yang memperkuat kebiasaan menabung.
- Ambil foto mereka bersama barang yang dibeli
- Ingat berapa lama waktu yang dibutuhkan dan bagaimana mereka tetap fokus
- Puji disiplinnya, bukan hanya hasilnya
- Tanya: “Apakah menunggunya sepadan? Untuk apa kamu akan menabung sekarang?”
Kesalahan Umum dalam Memberi Uang Saku
Kesalahan 1: Menggunakan Uang Saku sebagai Hukuman atau Hadiah Perilaku
Masalah: “Nilaimu jelek, bulan ini tidak dapat uang saku!”
Mengapa buruk: Mencampur pendidikan keuangan dengan hukuman, membuat uang saku tidak dapat diprediksi, mengajarkan bahwa uang adalah alat kontrol emosional.
Lakukan ini sebaliknya: Pertahankan uang saku reguler. Untuk masalah perilaku, gunakan konsekuensi yang berkaitan (nilai jelek = belajar lebih banyak, tidak ada hubungannya dengan uang).
Kesalahan 2: Memberi Uang Saku tapi Tetap Membayar Segalanya
Masalah: Anak menerima Rp 250.000/bulan tapi Anda terus membeli semua permen dan mainan saat diminta.
Mengapa buruk: Uang saku menjadi “uang ekstra” tanpa tujuan. Anak tidak belajar membuat pilihan karena tidak perlu.
Lakukan ini sebaliknya: Tentukan dengan jelas apa yang ditanggung uang saku dan konsisten — jika itu untuk jajan, jangan beli jajan ekstra. Biarkan mereka menggunakan uangnya.
Kesalahan 3: Tidak Konsisten
Masalah: Membayar saat ingat, jumlah bervariasi, kadang lupa berminggu-minggu.
Mengapa buruk: Anak tidak bisa belajar merencanakan karena tidak ada prediktabilitas. Mengajarkan bahwa komitmen keuangan tidak perlu ditepati.
Lakukan ini sebaliknya: Pasang alarm di ponsel, hubungkan dengan kebiasaan lain (bayar uang saku setiap Jumat setelah makan malam), atau jadwalkan transfer jika digital.
Kesalahan 4: Memberi Jumlah Berlebihan untuk Usia
Masalah: Anak 8 tahun menerima Rp 600.000/bulan dan tidak tahu harus berbuat apa dengan begitu banyak.
Mengapa buruk: Kehilangan tujuan edukatif. Anak tidak perlu membuat pilihan sulit, tidak menghargai uang.
Lakukan ini sebaliknya: Mulai dengan sedikit. Lebih baik meningkatkan bertahap daripada mengurangi nanti. Uang saku harus cukup terbatas untuk mengajarkan prioritisasi.
Alat dan Aplikasi untuk Membantu Mengelola Uang Saku
Untuk Anak Kecil (5–10 tahun)
Fisik:
- 3 toples kaca transparan (Belanja/Tabung/Sedekah)
- Buku catatan bergambar dengan kolom sederhana (masuk/keluar)
- Papan dengan stiker (setiap stiker = Rp 5.000 ditabung)
Untuk Pra-Remaja (11–14 tahun)
Semi-digital:
- Spreadsheet sederhana (Google Sheets dengan kolom: tanggal, apa yang dibeli, berapa yang dikeluarkan, berapa sisa)
- Kartu prabayar atau rekening tabungan pelajar yang dibuka dan dikelola orang tua: Anda mengisi uang saku setiap bulan dan memantau pengeluarannya (bandingkan biaya dan batas usia minimum, yang berbeda di tiap bank)
Untuk Remaja (15 tahun ke atas)
Digital:
- Aplikasi keuangan pribadi seperti Monely (versi disederhanakan untuk memulai)
- Rekening tabungan digital: sejumlah bank digital memungkinkan pendaftaran mandiri mulai usia 17 tahun dengan KTP
Tips transisi: Mulai dengan fisik (toples), beralih ke semi-digital (buku catatan + kartu), selesaikan di digital (aplikasi). Setiap transisi sebaiknya berlangsung 1–2 tahun.
Uang Saku dan Pekerjaan: Kapan Anak Mulai Menghasilkan Uang Sendiri?
Dari usia 14–16 tahun, banyak remaja mulai ingin atau perlu menghasilkan uang sendiri. Ini sehat tapi perlu panduan.
Opsi Penghasilan untuk Remaja
Di Dalam Rumah (12–15 tahun):
- Pekerjaan ekstra berbayar (bukan kewajiban)
- Menjual barang bekas dengan pengawasan
- Membantu tetangga (merawat tanaman, jagain rumah)
Di Luar Rumah (16 tahun ke atas):
- Kerja paruh waktu (warung, toko)
- Magang (biasanya dari usia 16 tahun)
- Kerja musiman (liburan, akhir pekan)
- Freelancing online (desain, edit foto, mengajar les)
Bagaimana Monely Dapat Membantu dalam Pendidikan Keuangan Anak
Ketika anak-anak Anda mencapai fase pengelolaan digital (biasanya dari 11–13 tahun), memiliki alat yang tepat membuat semua perbedaan. Monely bisa menjadi jembatan antara uang saku fisik dan manajemen keuangan dewasa.
Fitur yang berguna untuk mengajarkan pendidikan keuangan:
- Pencatatan manual sederhana pemasukan dan pengeluaran: Remaja bisa mencatat di mana mereka menghabiskan uang saku, menciptakan kesadaran tentang pola konsumsi
- Kategori kustom: Buat kategori spesifik seperti “Uang Saku”, “Jajan”, “Game”, “Tabungan untuk [tujuan]”
- Target keuangan: Tetapkan target visual untuk barang yang sedang ditabung (smartphone, sepeda, liburan)
- Multi-“rekening”: Simulasikan secara digital 3 kotak (Belanja, Tabung, Sedekah) dengan rekening terpisah di aplikasi
- Laporan dan grafik: Tunjukkan secara visual ke mana uang saku pergi, memudahkan percakapan tentang penyesuaian
- WhatsApp AI: Remaja bisa dengan cepat mencatat pengeluaran lewat pesan (“Keluar Rp 25.000 beli jajan”), membuat pencatatan tidak membosankan
Cara menggunakannya sebagai keluarga:
- Buat akun “percobaan” untuk remaja memulai berlatih
- Lakukan tinjauan mingguan bersama sambil melihat laporan
- Gunakan grafik untuk percakapan tanpa menghakimi: “Apa pendapatmu tentang distribusi ini? Apakah kamu puas?”
- Ketika remaja menunjukkan konsistensi (3–6 bulan), bisa berkembang ke pengelolaan yang lebih mandiri
Penting: Aplikasi tidak menggantikan percakapan dan bimbingan orang tua — ini hanya alat yang memudahkan pembelajaran. Pendidikan keuangan terjadi dalam dialog.
Kesimpulan: Uang Saku sebagai Investasi untuk Masa Depan
Memberi uang saku kepada anak bukan tentang uangnya sendiri — ini tentang berinvestasi dalam keterampilan finansial yang akan mereka bawa seumur hidup. Anak-anak yang belajar dari dini untuk mengelola uang terbatas, membuat pilihan, menabung untuk tujuan, dan menunggu hadiah mengembangkan kontrol diri, perencanaan, dan kesadaran finansial yang akan melindungi mereka di kehidupan dewasa.
Ingat poin utamanya:
- Mulai lebih awal (5–6 tahun dengan mingguan, 11 tahun ke atas dengan bulanan)
- Konsisten (hari yang sama, jumlah yang sama, kesepakatan yang sama)
- Biarkan mereka membuat kesalahan (kesalahan dengan Rp 30.000 di usia 8 tahun adalah pelajaran berharga)
- Gunakan 3 kotak (Belanja/Tabung/Sedekah untuk membagi uang saku)
- Jangan kaitkan dengan tugas dasar (uang saku adalah pendidikan, bukan gaji)
- Tingkatkan bertahap seiring usia dan tanggung jawab
- Ajarkan tentang pilihan dalam setiap percakapan tentang uang
Uang saku tidak perlu besar — perlu konsisten, terbatas, dan edukatif. Jumlah yang disarankan dalam panduan ini adalah referensi, bukan aturan. Sesuaikan dengan realitas keuangan keluarga Anda, tapi pertahankan prinsipnya: anak Anda perlu belajar membuat pilihan dengan sumber daya terbatas, karena itulah realitas kehidupan dewasa.
Mulailah hari ini. Pilih jumlahnya, tetapkan hari pembayaran, duduklah bersama anak untuk menjelaskan aturannya, dan mulailah perjalanan edukatif ini. Dalam 10 tahun, ketika mereka membuat keputusan finansial yang bijak, Anda akan tahu itu semua sepadan.
Ingin mengajarkan anak yang lebih besar mengelola uang saku secara digital? Unduh Monely dan buat akun latihan bersama anak Anda. Itulah langkah pertama menuju kemandirian finansial.
